Setelah Mengabdi Selama 10 Tahun, Jiwa Ngayah Masih Tetap Melekat

mengwi.desa.id Setelah 10 tahun  mengabdikan diri kepada masyarakat di Kabupaten Badung, ternyata jiwa ngayah masih tetap melekat pada sosok mantan Bupati Badung, Anak Agung Gde Agung . Beliau lahir dalam keluarga kerajaan, besar di rantauan, lalu terpanggil pulang membangun wilayahnya yaitu Kabupaten Badung. Anak Agung Gde Agung adalah anak tunggal yang awalnya tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Beliau dibesarkan dan disekolahkan oleh saudara ayahnya. Lalu belakangan beliau baru mengetahui siapa ayah kandungnya. Beliau kelahiran Badung, 25 Mei 1949 ini merupakan anak dari seorang punggawa kharismatik pada masanya bernama Tjokorda Mengwi.

              Pada tahun 1985, Anak Agung Gde Agung pindah ke Jakarta. Tahun 1989 beliau kuliah notariat di Universitas Indonesia (UI). Tahun 1999 beliau kembali ke Bali dan menjadi notaris di Tabanan.  Pemikiran Anak Agung Gde Agung pada saat itu adalah notaris itu mempunyai kantor, perlengkapan, dan pegawai sendiri, mandiri dan menyenangkan. Tapi jalan hidupnya berubah saat datangnya masyarakat subak dan kelian-kelian desa adat ke purinya, untuk meminta Anak Agung Gde Agung mengikuti pemilihan Bupati. Saat itu, tahun 2005 baru pertama kalinya pemilihan langsung diadakan. Beliau tidak mempunyai power politik, beliau hanya mempunyai people power dan minus ambisi. Akhirnya dengan people power Anak Agung Gde Agung menjadi Bupati Badung.

Foto Anak Agung Gde Agung bersama Ibu Ratna

        10 tahun perjalanannya sebagai Bupati Badung, yang di dua periode masa jabatannya itu, beliau berhasil memenangi hati masyarakat Badung. Kesahajaannya pada kaum marginal, kesigapannya dalam menangani suatu persoalan, dan kecerdasannya dalam membangun kebijakan, selalu beliau bungkus dengan empati. Anak Agung Gde Agung tahu, bahkan sangat tahu cara memimpin. Dorongan kepada SKPD yang dipimpinnya menciptakan banyak ragam inovasi. Penghargaan yang beliau peroleh tidak terhitung jumlahnya. Kekaguman petinggi-petinggi negeri terhadap apa yang sudah beliau perbuat, tak membuatnya jumawa. Ibu Ratna, perempuan Jawa yang diperistrinya adalah perempuan hebat yang selalu memberi inspirasi bagi Anak Agung Gde Agung. Beberapa kebijakannya lahir dari cetusan ide Ibu Ratna yang juga memiliki empati tinggi.

             10 tahun berlalu. Waktunya Anak Agung Gde Agung meninggalkan jabatannya sebagai Bupati. Beliau lega, karena waktu yang dipercayakan padanya mengantarkan beliau pada pencapaian yang luar biasa, yaitu mensejahterakan masyarakat Badung. Kini beliau harus kembali ke Puri Mengwi, kembali berkumpul dengan istri, anak, dan cucu-cucunya. Jika dulu mengabdi, sedangkan saat ini, jiwa ngayah tersebut tetap melekat pada diri beliau. Walaupun secara formal beliau sudah tidak menjabat lagi. Akan tetapi, sesuai dengan swadharma beliau lahir di Puri beliau harus tetap ngayah. Adapun jiwa ngayah tersebut diimplementasikan kedalam tiga hal, pertama ngayah ke Pura, ngayah kepada masyarakat dan ngayah kepada semeton Puri.

foto saat penyebaran bibit ikan di kolam Pura  Taman Ayun

Ini merupakan implementasi ngayah beliau kepada masyarakat Desa Mengwi. Bersama Bapak Perbekel Mengwi, LPM, BPD, PKK , Kelian Adat , Kelian Dinas dan Karang Taruna Wiratama Mandala Desa Mengwi dalam penyebaran bibit ikan di kolam Pura Taman Ayun. Penyebaran bibit ikan ini dilaksanakan berdasarkan konsep Tri Hita Karana yang terdiri dari Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Parahyangan berarti menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pawongan berarti menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama manusia. Dan Palemahan adalah menjaga hubungan baik dengan lingkungan sekitar.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan