“Anggara Kliwon Wuku Medangsia” Piodalan di Pura Taman Ayun

Suasana Piodalan di Pura Taman Ayun

mengwi.desa.id Salah satu hari raya besar dalam upacara keagamaan Hindu adalah upacara Piodalan disebut juga sebagai pujawali, petoyan atau petirtaan. Piodalan tersebut dalam rangkaian upacara Dewa Yadnya yang ditujukan kepada Ida Sang Hyang Widi pada sebuah pura atau tempat suci, dimana saat odalan atau hari besar tersebut berlangsung dipimpin oleh orang suci seperti Pemangku ataupun Pendeta. Piodalan berasal dari kata wedal yang berarti keluar atau lahir. Pada saat Piodalan (odalan) tersebutlah diperingati dan ditetapkan sebagai hari lahir sebuah Pura atau bangunan suci, sehingga bisa diartikan saat piodalan/pujawali/petoyan tersebut, umat Hindu memperingati hari kelahiran dari tempat suci tersebut, kalau pada manusia layaknya hari ulang tahun. Untuk itulah setiap pura di Bali, memiliki hari yang ditetapkan hari suci untuk piodalan ataupun pujawali.

Piodalan di hari pertama Pura Taman Ayun

         Selasa, 21 November 2017 (Anggara Kliwon Wuku Medangsia) telah berlangsung piodalan di Pura Taman Ayun, Mengwi. Piodalan ini akan berlangsung selama 4 hari sampai dengan Jumat, 24 November 2017 (Sukra, Pon Wuku Medangsia). Piodalan di Pura Taman Ayun berlangsung setiap 210 hari sekali atau enam bulan sekali. Ribuan warga sudah mulai banyak memadati Pura Taman Ayun dari siang hari sampai malam hari untuk melaksanakan persembahyangan.

          Pelaksanaan piodalan ini sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari oleh panitia dan pihak Puri Ageng Mengwi. Mulai dari pembuatan sarana dan prasarana upakaranya, pemasangan wastra di pura, pemasangan penjor dan masih banyak persiapan lainnya. Piodalan ini merupakan bentuk ungkapan rasa syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala berkah  yang telah dillimpahkan sekaligus momentum memohon  keselamatan, kesehatan serta kemakmuran tidak hanya bagi Krama Hindu, tapi juga pada masyarakat Bali, rakyat Indonesia bahkan seluruh makhluk di dunia.

       Penari Tari Baris Kraras

           Adapun ritual rutin yang dilaksanakan pada piodalan ini yaitu Aci Tulak Tunggul yang ditandai dengan Tari Baris Kraras. Sebagai wujud pemahaman dalam menjaga keharmonisan di bumi ini dan pemeliharaan sumber air sebagai wujud dana kerti maka prosesi ritual atau aci ini tetap dilaksanakan oleh masyarakat Desa Mengwi . Tari Baris Kraras ini diiringi dengan menggunakan musik vokal dan kostummnya (celana, baju, dan gelungan) terbuat dari pelepah pisang, senjata keris dari

satai lilit dan kekuwung dari kulit babi, awir dari keraras, badong dan gelang kana dari urutan babi, dan hiasan muka dari kapur yang dibasahi

 Tradisi Mapeed

        Tradisi mapeed juga dilaksanakan dalam piodalan ini. Mapeed merupakan salah satu budaya dan tradisi unik di Bali diwariskan secara turun temurun sampai sekarang ini. stilah Mapeed memiliki makna berjalan beriringan, karena warga tidak diperbolehkan datang secara perorangan. Seperti yang lazim kita lihat adalah iringan ibu-ibu yang menggunakan pakaian adat seragam baik itu warna baju (biasanya putih) dan sarung/kain, rambut disanggul bahkan selendang yang diikatkan dipinggang juga seragam, kemudian mereka berjalan beriringan membawa banten/sesajen yang tingginya rata-rata sama menuju ke sebuah pura. Prosesi ini digelar sebagai ungkapan syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan